Kontraknya dengan Legia Gdansk Akan Segera Berakhir, Ini Kata Egy

Bintang Timnas Indonesia U-22, Egy Maulana Vikri saat ini sedang berada di tahun terakhir kontraknya bersama dengan klub Polandia, Lechia Gdansk. Lantas, apa rencana sosok berusia 21 tahun tersebut kedepannya?

Sebagai informasi, Egy memang menjadi salah satu kebanggaan Indonesia. Dia direkrut oleh klub Polandia, Lechia Gdansk pada tahun 2017 lalu. Selama dua tahun terakhir, Egy tampil cemerlang bersama Lechia Gdansk.

Akan tetapi, waktu terus berjalan dan sekarang kontraknya bersama klub Polandia menyisakan satu tahun lagi. Egy lantas mulai jadi target sejumlah klub Indonesia, namun sang bintang muda itu masih belum tertarik berkarir di Tanah Air.

Dia berharap tetap bisa berkarir di Eropa.

“Saya ingin tetap main di Eropa,” katanya ketika telewicara dengan Menpora Zainudin Amali melalui Instagram.

Bukan tanpa alasan, Egy masih ingin terus mengasah kemampuannya di atas lapangan, menimba ilmu di Eropa dan targetnya menembus skuat utama tim yang dibelanya.

“Ingin merasakan main di dalamnya, terus ingin meningkatkan ilmu, ingin masuk ke skuat inti,” imbuh pemain yang dijuluki Lionel Messi dari Indonesia itu.

Di Lechia Gdansk sendiri, Egy memang sulit menembus skuat utama, musim ini dia baru mencatat 3 penampilan saja. Tapi sang pemain menegaskan bahwa persaingan di Eropa memang tidak mudah, bahkan untuk masuk ke skuat cadangan saja sangat sulit.

Meski demikian, hal tersebut tak lantas mematahkan semangat Egy untuk tetap melanjutkan karirnya di Benua Biru.

“Untuk masuk ke-18 pemain yang akan main itu benar-benar sangat sulit, harus ekstra kerja keras. Yang pasti saya ingin bermain di Eropa, saya masih punya rasa penasaran,” ucap Egy Maulana Vikri.

Lantas, kemana tujuan Egy setelah meninggalkan Polandia? Sosok yang sempat diketahui dekat dengan Adiba ini mengaku ingin bergabung dengan klub Portugal atau Spanyol.

“Beberapa tahun ke depan kontrak saya habis. Kalau bisa saya mencoba di Liga Portugal dan Spanyol,” ujar Egy Maulana Vikri.

Liga Polandia sendiri memang sempat tertunda karena pandemi Corona, dan rencananya baru digelar lagi pada tanggal 29 Mei mendatang.

Arsenal Harus Jual Ozil, Lalu Beli Jack Grealish

Mantan pemain Arsenal, Kevin Campbell menyarankan bekas klubnya untuk membenahi skuat yang ada saat ini. Salah satu caranya dengan menjual playmaker asal Jerman, Mesut Ozil, lalu membeli gelandang muda potensial, Jack Grealish.

Sebagai informasi, Jack Grealish saat ini memang sedang menjadi incaran banyak klub besar Premier League. Tak lain hal tersebut dikarenakan performa gemilang sosok berusia 24 tahun tersebut bersama dengan Aston Villa.

Dari berita yang beredar di media-media Inggris, Manchester United disebut sebagai peminat utama sang pemain. Namun mereka tak kunjung merekrut gelandang asal Inggris itu, padahal ada kesempatan besar untuk melakukannya di musim dingin Januari kemarin.

Jelas fakta tersebut sama saja dengan membuka jalan bagi klub lain untuk mendapatkan servis sang gelandang. Terlebih lagi, peminat Jack Grealish ada banyak, dan Arsenal disebutkan sebagai salah satu diantaranya.

Sedangkan di satu sisi, Kevin Campbell menilai bahwa masa-masa Emas Mesut Ozil sudah berakhir. Hal ini terlihat dari performanya yang tampak menurun dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan di sisi lain, usia mantan bintang Real Madrid itu juga sudah tidak muda lagi.

Karenanya, dia menyarankan agar Arsenal segera mengambil keputusan. Melepas pemain yang sudah mendekati masa akhir karir, lalu mendatangkan pemain lain yang masih muda dan punya masa depan cerah seperti Jack Grealish.

Selain itu, klub London Utara juga perlu mempertimbangkan nama James Maddison, bintang muda Inggris yang cemerlang bersama Leicester City.

“Arsenal butuh seseorang di tengah lapangan yang tidak hanya mampu menciptakan sesuatu, tapi juga bisa merusak permainan, memiliki kecepatan, kami merindukan itu. Ada perbincangan bahwa seharusnya kami mengejar Jack Grealish atau James Maddison.

“Tipe pemain seperti mereka akan mengembangkan Arsenal. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ozil, tapi Ozil sedang berada di sisi yang salah dalam karirnya dengan kontrak tersisa satu tahun setelah ini,” ujar Campbell.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah, mampukah Arsenal membuat para pemain tersebut tertarik untuk bergabung ke skuat Mikel Arteta? Pasalnya, klub sedang paceklik gelar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga sulit menembus ajang Liga Champions Eropa.

Ligue 1 Prancis Musim Ini Akan Diberhentikan Segera

Kabar yang mungkin sedikit mengecewakan terdengar dari sepakbola Prancis. Dua kompetisi tertinggi di Negeri Fashion tersebut, Ligue 1 dan Ligue 2 terancam dihentikan secara permanen menyusul pandemi Virus Corona yang semakin mencemaskan.

Sebagai informasi, Prancis adalah salah satu negara yang merasakan dampak cukup parah dari Pandemi Virus Corona ini. Wabah tersebut setidaknya sudah memakan korban jiwa lebih dari 23 Ribu orang, dengan total lebih dari 165 ribu kasus positif ditemukan sejauh ini.

Tentu saja, kondisi ini sudah masuk ke fase krisis, karenanya pemerintah Prancis terus membuka kemungkinan untuk menerapkan aturan ketat agar penyebaran Virus bisa diminimalisir. Termasuk dengan menghentikan kompetisi sepakbola, Ligue 1 dan Ligue 2.

Kabar inipun juga telah dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Prancis, Edouard Phillipe secara langsung.

“Pertandingan Olahraga apapun tidak bisa digelar hingga bulan September. Musim sepakboal profesional 2019/20 tidak bisa dilanjutkan,” ujar Philippe yang dikutip RMC Sport.

Meski demikian, sampai kabar ini diturunkan pihak Ligue 1 atau FFF masih belum memberikan pernyataan resmi terkait kelangsungan kompetisi sepakbola di Prancis.

Padahal, sebelum ini ada kabar yang menyebut bahwa pihak otoritas Ligue 1 berencana menggulirkan liga lagi dalam waktu dekat. Mereka berencana untuk menggelar lagi kompetisi ini pada tanggal 17 Juni 2020 mendatang.

Namun berkat pernyataan Philippe itu, rencana ini dipastikan tidak bisa berlanjut dan saat ini mereka harus mengambil Respon resmi atas keputusan Perdana Menteri Prancis tersebut.

Laporan yang sama mengklaim bahwa pihak Federasi sepakbola Prancis akan memanggil semua perwakilan klub Ligue 1 dan Ligue 2 untuk membicarakan hal ini. Pertemuan ini akan diadakan pada awal Mei secara virtual.

Tentu saja, selain rencana tersebut, akan dibicarakan juga tentang siapa tim yang berhak juara, lolos ke kompetisi Eropa dan terdegradasi maupun Promosi.

Paris Saint-germain saat ini masih berada di puncak klasemen sementara dengan keunggulan 12 poin atas Marseille. Namun ada kemungkinan Ligue 1 musim 2019/20 dinyatakan tanpa juara, sebagaimana keputusan tersebut juga diambil pihak Eredivisie Belanda.

Soal Spekulasi Masa Depannya, De Ligt Angkat Bicara

Bek Timnas Belanda, Matthijs de Ligt akhirnya buka suara perihal spekulasi masa depannya di Juventus yang belakangan jadi perbincangan media-media Inggris.

Sebagai informasi, pemain berusia 20 tahun tersebut dibeli Juventus pada bursa transfer musim panas kemarin. Si Nyonya Tua harus membayar 75 juta euro untuk bisa mendapatkan servis De Ligt dari klub Liga Belanda, Ajax Amsterdam.

Kocek tinggi dirogoh sang juara bertahan Serie A italia usai melihat penampilan apik sang bek bersama Ajax musim kemarin. Seperti diketahui, De Ligt mampu memberi gelar Eredivisie dan lolos ke semifinal Liga Champions Eropa untuk Ajax.

Di panggung Internasional, De Ligt juga jadi andalan utama Tim Nasional Belanda. Dia menjadi duet Virgil van Dijk di bek tengah dan ikut berkontribusi mengantarkan timnas Belanda ke final UEFA Nations League.

Sayangnya, belum genap semusim membela Juventus, muncul rumor yang mengklaim bahwa sang pemain tak bahagia bersama Klub Serie A tersebut. Bahkan, dia disebut telah mengajukan permintaan transfer menuju Manchester United.

Akan tetapi, sang pemain lantas membantah kabar tersebut dalam kesempatan Podcast baru-baru ini. Dia mengaku bahagia di Juventus, dan merasa bahwa Bianconneri adalah pilihan terbaik.

“Saya punya waktu yang lama untuk memilih di antara klub-klub yang menginginkan saya, Juventus adalah pilihan terbaik,”

“Di Juventus, mereka mengatakan kepada saya bahwa saya dibeli karena saya tahu cara mengelola tekanan, mereka mempercayai saya untuk semua yang saya lakukan di Ajax. Saya senang tinggal di Turin,” Kata Matthijs de Ligt dikutip dari Sportsmole.

Sebenarnya, sejak awal De Ligt memang tak diproyeksikan untuk langsung bertandem dengan Bonucci di jantung pertahanan Juventus. Kondisi Chiellini yang sedang cedera membuatnya jadi pilihan utama sejak awal musim ini.

Sayang, performanya yang kurang bagus membuat manajer Maurizio Sarri lantas memilih Merih Demiral. Hanya saja, bintang muda Italia tersebut lantas mengalami cedera, dan De Ligt kembali jadi andalan utama.

Tapi sekarang, Chiellini yang cedera sudah kembali pulih, bek senior itupun jadi andalan di jantung pertahanan Bianconneri.

Legenda MU ini Tak Setuju Liverpool Juara Premier League

 

Liverpool bisa keluar sebagai juara Premier League musim ini jika kompetisi pada akhirnya benar-benar dihentikan. Namun, banyak pihak yang tak setuju termasuk legenda Manchester United, Peter Schmeichel.

Seperti diketahui, sebelum pandemi Virus Corona membuat Premier League terhenti sementara waktu, Liverpool memang sedang berada di puncak klasemen sementara. Skuat besutan Jurgen Klopp tersebut sedang unggul 25 poin atas penghuni posisi kedua, Manchester City.

Artinya, dengan fakta bahwa hanya ada 9 pertandingan tersisa, Liverpool membutuhkan 6 poin saja atau dua kemenangan untuk mengunci gelar juara musim ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, seharusnya Liverpool berpeluang untuk juara pada akhir bulan Maret.

Akan tetapi, Pandemi Corona membuat rencana tersebut buyar. Premier League ditangguhkan, awalnya sampai 30 April mendatang, namun putusan terbaru membuat Liga tertunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dengan fakta bahwa pandemi ini belum juga mereda, maka kelanjutan kompetisi pun menjadi semakin tak jelas. Situasi tersebut memunculkan gagasan agar Premier League sebaiknya dihentikan saja sementara waktu.

Jika langkah itu diambil, maka Liverpool akan dijadikan sebagai juara musim ini. Banyak orang yang sepakat jika mengingat jarak antara Liverpool dan Manchester City, tetapi tidak sedikit yang menolaknya.

Termasuk salah satunya legenda Manchester United, Peter Schmeichel. Menurutnya, unggul 25 poin tak berarti apapun jika tidak bisa menyelesaikannya hingga musim berakhir.

“Unggul 25 poin? Jadi ini sungguh menyedihkan buat mereka, tapi anda harus menyelesaikannya. Anda harus memenangkannya, agar anda bisa mengatakan bahwa andalah juaranya,” ujar Schmeichel dalam sesi tayangan langsung di media sosial Instagram.

Lebih lanjut, sang kiper legendaris juga percaya bahwa Liverpool sendiri tidak akan menerima jika diberikan gelar juara begitu saja tanpa harus melewati laga-laga yang menantang.

“Jika anda menjadi Liverpool, akankah anda menerima jika diberi seperti itu? Di Belgia, mereka memberikan trofi ke Club Brugge. Apakah begitu caranya kami bisa memenangkan kejuaraan?” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Liga Super Belgia memang telah dihentikan, dan gelar juara diberikan kepada pemuncak klasemen sementara, Club Brugge.

Tak Semua Pemain Juve Sepakat Gajinya Dipangkas

Baru-baru ini, muncul kabar bahwa Juventus telah menerapkan kebijakan pemotongan gaji semua pemain mereka menyusul pandemi Virus Corona. Meski kebijakan tersebut pada akhirnya diterima, namun tak semua pemain lantas mencapai kata sepakat.

Pandemi Virus Corona memang sedang mewabah hebat di Italia. Setidaknya sampai berita ini diturunkan ada lebih dari 90 Ribu kasus positif COVID-19 ditemukan di Negeri Spaghetti. Alhasil, Pemerintah menghentikan semua aktivitas luar ruangan, termasuk sepakbola.

Wabah ini juga membuat Juventus selaku juara bertahan kompetisi, menghentikan segala aktivitas klub. Mereka mewajibkan para pemain untuk melakukan karantina mandiri.

Seiring dengan keputusan tersebut, artinya kompetisi tak berjalan, pemasukanpun mandeg. Menghindari kebangkrutan, akhirnya Juventus melakukan kebijakan yang sama seperti klub-klub lain, yakni memotong gaji pemain.

“Kesepahaman tersebut mewujudkan pengurangan kompensasi mereka untuk bulan Maret, April, Mei, dan Juni 2020. Beberapa pekan ke depan, kesepakatan pribadi dengan para pemain dan pelatih akan diselesaikan, seperti yang diminta peraturan saat ini.”

“Jika sisa pertandingan musim ini dilanjutkan, klub bakal kembali bernegosiasi dengan para pemain dan pelatih perihal peningkatan bersyarat kompensasi mereka musim ini.” Demikian pernyataan resmi Juventus.

Para pemain Bianconneri disebut-sebut telah menyetujui kebijakan tersebut. Namun, pada awalnya tidak semua mencapai kata sepakat, sebagaimana diungkapkan oleh Paulo Dybala.

“Chiellini berbicara kepda presiden, lalu kepada pemain. Kami berbicara soal itu, ada beberapa opini yang berbeda, ada pemain yang kekurangan satu atau dua pertandingan untuk mencapai suatu klausul, tapi inilah hal terbaik yang bsa dilakukan,” ujarnya ke AFA.

Meski demikian, akhirnya semua pemain sepakat dengan pemotongan gaji ini. Sikap juventus lantas mendapat pujian dari berbagai pihak. Akhirnya banyak yang mengikuti jejak Bianconneri seperti Barcelona misalnya.

Kabar inipun dikonfirmasi langsung oleh kapten sekaligus pentolan utama Barcelona, Lionel Messi. Dikatakan bahwa para pemain sepakat untuk pemangkasan gaji sampai 70 Persen.

Bahkan, para pemain Barcelona akan mengumpulkan pundi-pundi uang demi membayar gaji karyawan klub selama masa pandemi ini berlangsung.

Serie A Italia sendiri sedang ditangguhkan, rencananya kompetisi baru bergulir lagi pada akhir Mei 2020 mendatang. Itupun jika situasinya memang sudah membaik.

Liga Primer Bisa Tertunda Lebih Lama, Begini Alasannya

Kendati ada gagasan untuk menggulirkan kompetisi tanpa penonton, Legenda MU Garry Neville tampak pesimis bahwa Premier League bisa berlangsung lagi akhir April mendatang.

Pandemi Corona memang memaksa pemerintah di Negara-Negara Eropa untuk melakukan tindakan pencegahan. Di Inggris misalnya, pertandingan Sepakbola Premier League yang memicu kerumunan akhirnya ditunda sampai tanggal 30 April 2020 mendatang.

Bukan tanpa alasan, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menginstruksikan semua negara untuk menerapkan kebijakan Social Distancing. Hal tersebut diterapkan demi menekan angka penyebaran Virus corona yang semakin mengkhawatirkan.

Otoritas Premier league sendiri telah menunda jadwal pertandingan sampai 30 April 2020 mendatang. Bisa saja lebih lama tergantung pada kondisi yang ada. Namun, muncul gagasan untuk memaksa kompetisi bergulir tanpa kehadiran penonton.

Namun, Garry Neville tampak meragukan hal tersebut. Pasalnya, sebuah pertandingan sepakbola tak hanya memerlukan kehadiran para pemain kedua tim, tapi juga ambulan, tenaga medis dan lainnya. Sedangkan mereka para tenaga Medis kini sedang sibuk menangani pasien Covid-19.

“Saya kira, saat ini tidak ideal membayangkan bagaimana sepak bola dilanjutkan lagi pada tiga-empat bulan ke depan, mengingat fakta bahwa kita baru saja menerima keputusan karantina wilayah,”

“Sepak bola tidak bisa kembali sebab sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan stadion, seperti polisi dan pelayanan ambulans, tidak akan tersedia sampai beberapa bulan ke depan. Mereka jelas bakal sibuk di setiap rumah sakit dan menjaga mereka yang terbaring lemah, yang paling membutuhkan,” ujar Neville kepada CNN.

Legenda Manchester United itu sadar bahwa ada sangat banyak pihak yang merugi jika sepakbola tak dilanjutkan kembali. Namun, yang harus dipikirkan dan diutamakan sekarang ini adalah kesehatan serta keselamatan semua orang.

“Kesehatan tetap yang utama, baik itu kesehatan fans, para pemain, staf, orang-orang yang memasuki stadion. Hal yang paling penting adalah kita baru akan menghadapi krisis paling besar untuk negara ini [UK],” tandasnya.

Premier League sendiri terbilang ‘terlambat’ melakukan tindakan preventif ini. Ketika Mikel Arteta (Pelatih Arsenal) dan Callum Hudson Odoi (Pemain Chelsea) telah positif terjangkit Corona, barulah mereka menunda kompetisi.

Pablo Mari Ingin Bertahan Lama di Arsenal

Meski baru memasuki bulan ketiga sejak bergabung dengan Arsenal, bek Brazil, Pablo Mari mengaku sudah betah di klub London tersebut.

Arsenal memang mendatangkan bek anyar pada kesempatan bursa transfer musim dingin Januari kemarin. Pemain tersebut tidak lain adalah Pablo Mari, yang mereka beli dari klub Brazil, Flamengo.

Pemain berusia 23 tahun tersebut dipinjam selama setengah musim, dengan opsi pembelian permanen pada musim panas mendatang.

Artinya, Pablo Mari merupakan rekrutan pertama Arsenal dibawah arahan Mikel Arteta. Tak lama berselang, datang Cedric Soares yang dibeli dari Southampton pada deadline day bursa transfer tengah musim.

Sejauh ini, faktanya Pablo Mari belum begitu banyak mendapat kesempatan bermain di Arsenal. Dia baru bermain di dua pertandingan saja. Namun demikian, sang pemain mengaku tetap bahagia bersama klub Premier League tersebut.

Bahkan, Pablo Mari ingin bertahan lama di klub London utara, karena merasakan atmosfer yang positif sejauh ini.

“Saya ingin bermain di salah satu liga terbaik di dunia dan sekarang saya di sini. Saya akan melakukan yang terbaik bagi tim, klub, meraih banyak kemenangan dan juga untuk fans agar mereka bisa menikmatinya bersama saya. Saya ingin bermain selama bertahun-tahun di sini bersama Arsenal. Saat ini saya merasa sangat bahagia,” ujar Mari seperti dikutip Goal International.

Lebih lanjut, sang defender berharap agar Arsenal bisa membelinya secara permanen pada bursa transfer musim panas mendatang.

“Ya, tentu saja. Saya sangat bahagia di sini,” jawab Mari ketika ditanya apakah ia ingin statusnya di Arsenal menjadi permanen.

Karena bertekad bisa bertahan lama di Arsenal, Pablo Mari lantas bertekad untuk melakukan yang terbaik di sisa musim ini.

“Saya akan mencoba dan melakukan yang terbaik hingga akhir musim. Saya juga berharap klub senang dengan saya dan kemudian kita akan mencari solusi yang baik untuk semuanya,” tukasnya.

Arsenal sendiri terancam kembali gagal bermain di ajang Liga Champions Eropa musim depan setelah tersingkir dari ajang Liga Europa. Di klasemen sementara Premier League, mereka juga duduk di posisi ke-9.

Liverpool Haram Kalah dari Chelsea

Gerard Houllier tidak khawatir saat melihat bekas tim asuhannya, Liverpool, menelan kekalahan atas Watford. Namun ia memberi peringatan bahwa sebuah klub besar tidak pernah merasakan pengalaman kalah dalam dua laga beruntun.

Siapa saja pasti mengakui bahwa Liverpool adalah klub terbaik pada kampanye musim 2019/20 ini. Bagaimana tidak ? Pasukan Jurgen Klopp memimpin klasemen sementara dengan keunggulan 22 poin atas rival terdekat, Manchester city.

Selain keunggulan poin yang sangat tegas tersebut, Liverpool juga faktanya belum menelan kekalahan sampai akhirnya menjalani pekan ke-28 melawan Watford, Minggu kemarin (01/03).

Pada awalnya, Tim Marseyside diprediksi tidak akan kesulitan menang di markas Watford mengingat tuan rumah berada di Zona Degradasi pada klasemen sementara.

Tapi siapa sangka, pada akhirnya Liverpool telan kekalahan dengan skor telak 0-3. Meski demikian, Liverpool masih tetap punya peluang besar untuk memenangkan gelar Premier League musim ini.

Gerard Houllier selaku mantan pelatih The Reds sama sekali tidak mempermasalahkan kekalahan tersebut. Kekalahan dari Watford menurutnya bukanlah akhir dari dunia.

“Pada hari itu saya berpikir kalau Watford memiliki intensitas yang lebih besar dalam permainan mereka. Namun ini bukanlah akhir dari dunia. Hal ini kerap terjadi,” ujar Houllier kepada talkSPORT.

Hanya saja, yang dicemaskan adalah pertandingan berikutnya melawan Chelsea. Dia berharap agar Liverpool tidak kalah lagi. Jika kalah dua kali secara beruntu, makan the Reds dianggapnya bukan tim besar.

“Pertandingan berikutnya adalah yang paling penting untuk Liverpool. Sebuah tim besar tidak menelan kekalahan dua kali secara berturut-turut. Itulah yang saya pikirkan,” pungkasnya.

Perlu diketahui bahwa Liverpool akan menghadapi Chelsea dalam babak putaran kelima Piala FA tengah pekan ini. Laga tersebut akan digelar di Anfield. Jika bicara di atas kertas, tentu saja Liverpool tampak lebih unggul dibandingkan pasukan Frank Lampard.

Barulah setelah itu, The Reds akan berhadapan dengan Bournemouth dalam lanjutan Premier League tiga hari berselang.

Dengan sisa 10 pertandingan musim ini, rasanya sulit bagi Manchester City memangkas jarak dengan Liverpool yang ada di puncak klasemen.

Pep Guardiola Ingin City Tiru Real Madrid

Jelang pertandingan melawan Real Madrid, pelatih Manchester City Pep Guardiola tampak begitu antusias. Dia bahkan ingin agar Citizen bisa meniru jejak Los blancos sebagai tim tersukses di ajang Liga Champions Eropa.

Sebagaimana diketahui, Manchester City akan bertandang ke Santiago Bernabeu guna melakoni pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa tengah pekan besok, Kamis (27/02). Berbicara tentang prestasi kedua tim di panggung Eropa, kedua tim ini memiliki nasib yang berbeda.

Real Madrid berhasil menjadi ‘Raja’ Liga Champions Eropa dengan mengoleksi 13 trofi juara, yang terbanyak dalam sejarah. Sementara itu Manchester city belum pernah sekalipun memenangkan gelar juara di ajang tahunan ini.

Tentu saja ekspektasi meninggi dibawah komando Pep Guardiola, terutama setelah City menjuarai Premier League selama dua musim beruntun. Selama periode tersebut, Pep belum pernah mengantarkan City meraih gelar Liga Champions Eropa.

Berbicara mengenai hal tersebut, mantan pelatih Barcelona ini lantas menegaskan bahwa salah satu faktor untuk bisa menjuarai Liga Champions adalah pengalaman. Sedangkan saat ini, klub hanya memiliki segelintir pemain yang punya pengalaman tersebut.

“Mungkin Claudio [Bravo] pernah menjuarai Liga Champions dan pemain lainnya. Kami tidak punya banyak pemain yang pernah menjuarainya. Tapi kami butuh hasrat untuk bisa memenangkannya dan menjadi diri sendiri,” ujar Guardiola dikutip dari Goal International.

Lepas dari itu, Pep Guardiola menyatakan kekagumannya terhadap Real Madrid. Meski dulu, Real Madrid adalah rival baginya sebagai pelatih Barcelona, tapi kini sang manajer ingin agar Citizen bisa meniru jejak sang ‘raja’ Liga Champions Eropa tersebut.

“Mereka adalah klub yang ingin kami tiru serta imitasi dan kami harus bisa berada di sana. Saya ingin ke sana dan pada akhir permainan berkata ‘Kami adalah kami’. Inilah yang terpenting dalam kompetisi seperti ini,”

“Bagi kami berada di sini sangatlah menyenangkan, bagus dan kami akan mencoba melakukan yang terbaik, tahu bahwa kami bermain melawan tim yang telah memenangkan Liga Champions 13 kali dan rajanya,” pungkasnya.

Adapun Real Madrid terakhir kali menjuarai Liga Champions Eropa di musim 2017/18 lalu, kala itu mereka berhasil kalahkan Liverpool di babak final.