Sadio Mane Menepi Sampai Jeda Musim Dingin

Liverpool sempat dibuat cemas dan was-was dengan kondisi winger andalan mereka, Sadio Mane. Pemain Senegal tersebut mengalami cedera dalam laga melawan Wolverhampton akhir pekan kemarin. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa cedera Mane tak begitu parah, bahkan yang bersangkutan sudah bisa kembali mentas selepas Jeda Musim Dingin.

Sadio Mane bermain sejak menit pertama pada pertandingan melawan Wolverhampton akhir pekan kemarin. Liverpool sendiri berhasil meraih kemenangan dengan skor akhir 2-1, namun kemenangan itu juga harus dibayar mahal dengan cederanya pemain Senegal. Mantan pemain Southampton ini kesakitan di tengah-tengah laga dan akhirnya ditarik keluar.

Setelah pertandingan tersebut, pelatih Jurgen Klopp mencoba bersikap tenang dan mengatakan bahwa cedera Mane tidak terlalu parah. Kabar ini tentu melegakan fans The Reds, pasalnya Mane adalah salah satu pemain penting bagi tim kesayangan mereka.

Tes medis kemudian dilakukan, dan ternyata cedera Mane sedikit lebih buruk dari dugaan awal, tapi harapannya dia tidak perlu menepi terlalu lama. Liverpool beruntung, cedera Mane tiba saat libur jeda musim dingin tiba. Dengan kata Lain, Mane hanya akan melewatkan laga melawan West Ham dan Southampton di ajang Premier League.

Setelah itu, Liverpool akan libur bertandinga selama kurang lebih dua pekan. Waktu libur tersebutpun bisa dimanfaatkan Mane untuk fokus memulihkan kondisinya. Kabar inipun dikonfirmasi oleh manajer Liverpool, Jurgen Klopp.

“Sadio tidak akan terlibat untuk pertandingan lawan West Ham dan mungkin Southampton. Setelahnya dia akan kembali ke jalur yang tepat. Dia menderita otot robek yang cukup serius. Kami beruntung itu tidak terlalu serius. Dia bakal absen selama tiga pertandingan,” ujar Klopp dikutip sebagaimana dilansir situs resmi Liverpool.

Liverpool sendiri sejatinay sudah mengantisipasi situasi seperti ini. Klopp bisa sedikit lebih tenang karena memiliki Takumi Minamino, yang bisa diminta mengisi posisi Mane. Minamino mungkin masih butuh waktu beradaptasi, tapi setidaknya kehadirannya bisa membuat lawan waspada. Apalagi, dua pertandingan berikutnya tampak tak begitu sulit.

Di satu sisi, Liverpool juga masih unggul 16 poin atas rival terdekat mereka, Manchester city di klasemen sementara Premier League.

Bukan Sir Alex, Ini Sosok Manajer Terbaik Dalam Sejarah Liga Inggris

Sir Alex Ferguson boleh saja mencatatkan dirinya sebagai pelatih dengan gelar Premier League terbanyak dalam sejarah, namun eks pelatih Cardiff City, Neill Warnock tak lantas menganggapnya sebagai pelatih terbaik dalam sejarah Liga Inggris. Menariknya, Warnock justru menganggap eks pelatih Arsenal, Arsene Wenger sebagai yang terbaik.

Sir Alex Ferguson mulai menangani Manchester United sejak 1987 kemudian memutuskan pensiun pada tahun 2013 silam. Selama periode tersebut, dia berhasil mempersembahkan banyak gelar juara untuk Setan Merah, termasuk 12 gelar Liga Primer Inggris dan dua trofi Liga Champions Eropa. Kini dia dikenang sebagai pelatih legendaris klub Manchester tersebut.

Sedangkan Arsene Wenger sendiri menghabiskan waktunya selama dua dekade untuk melatih Arsenal. Ia tiba di Inggris pada tahun 90an dan baru cabut dari London pada tahun 2018. Wenger pun tercatat menjalani laga Premier League lebih banyak dari manajer lainnya (828 kali). Berbeda dengan Sir Alex yang persembahkan 12 gelar Liga, Wenger justru hanya memberikan 3 gelar Liga saja untuk Arsenal.

Namun demikian, faktanya pelatih asal Prancis itu adalah satu-satunya sosok pelatih dalam sejarah kompetisi yang mencatatkan rekor tak terkalahkan alias Invincibles tepatnya di musim 2003/04 silam. Total, The Gunners tak terkalahkan dalam 49 pertandingan. Neil Warnock bekerja sebagai pelatih selama empat dekade. Ia kemudian memilih lima manajer terhebat sepanjang masa yang berkarir di Premier League.

Yang bersangkutan lebih memilih Arsene Wenger untuk berada di urutan pertama ketimbang Sir Alex. Lepas dari raihan prestasi, manajer asal Prancis menurutnya telah membawa angin perubahan untuk sepakbola Inggris secara keseluruhan.

“Dihitung dari Liga ini dimulai, jika saya memilih lima manajer teratas saya, saya akan menempatkan Arsene Wenger di nomor satu, hanya karena ia mengubah seluruh pandangan pemain sepak bola modern. Ia membawa begitu banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya – ahli gizi, kebugaran, video, teknologi,”

“Jadi saya pikir Wenger mengubah seluruh arah jalan sepak bola ketika ia datang ke Premier League,” ujar Warnock pada talkSPORT.

Menariknya, Sir Alex Ferguson justru berada di posisi ke empat, sedangkan posisi ke-2 dan ke-3 secara berurutan diduduki Pep Guardiola dan Jurgen klopp.

Nani Ternyata Sempat Nyaris Gabung Juventus

Mantan bintang Timnas Portugal, Luis Nani baru-baru ini mengungkapkan sebuah fakta yang jarang diketahui publik, bahwa di masa lalu dia sempat nyaris bergabung dengan raksasa Serie A Italia, Juventus. Kesempatan tersebut menghampirinya saat masih berkostum Manchester United, tapi pada akhirnya gagal terwujud.

Nani sendiri cukup lama bermain untuk Manchester United, dia merapat ke Old Trafford pada bursa transfer musim panas tahun 2007 silam. Karena sama-sama berasal dari Sporting CP, tak ayal dirinya kerap disandingkan dengan bintang utama klub, Cristiano Ronaldo. Awalnya, Nani kerap jadi andalan, namun seiring berjalannya waktu dia mulai diabaikan.

Masalahnya adalah karena cedera yang dialami sang pemain sejak 2012 yang kemudian mengganggu performanya. Penampilannya terus menurun sejak saat itu. Dan sekarang, pria berumur 33 tahun tersebut sedang memperkuat salah satu klub MLS yakni Orlando City. Di Amerika Serikat, Nani berhasil mengemas 12 gol dari 30 penampilannya.

Karirnnya di Manchester United sendiri berakhir di tahun 2013, Nani sempat dipinjamkan ke Sporting CP, sebelum kemudian resmi dilepas permanen ke Fenerbahce. Padahal, sempat ada peluang bagi sang Winger untuk mencoba karir di Italia bersama Juventus, bahkan saat itu kesepakatan antara United dengan Klub Serie A sudah tercapai.

Namun, di menit-menit terakhir, Manchester United secara sepihak membatalkan transfer tersebut.

“Saat saya baru sembuh, saya akan pindah ke Juventus. Semua berjalan dengan baik. Juventus menginginkan saya. Direktur berkata ya, pelatih berkata ya. Dan pada menit-menit akhir, di detik terakhir, saat bursa transfer ditutup, mereka berkata: ‘Tidak, kami tak inginkan itu lagi, kami takkan membiarkan Nani pergi’,” Beber Nani kepada Tribuna Expresso.

Nani Bingung dengan keputusan klubnya itu, dia tentu saja merasa kecewa, terlebih Juventus terus berkembang sejak saat itu sampai sekarang, menjadi langganan juara Scudetto delapan musim terakhir secara beruntun.

“Saya bertanya kenapa. ‘Tidak, anda bertahan di sini. Anda takkan pergi’. Saya kecewa, kami berdebat. Namun saat saya sadar telah bertahan, saya bicara ke direktur dan berkata: ‘Saya di sini tahun ini, akan melakukan yang terbaik, anda menunjukkan bahwa saya berharga, terima kasih banyak,” tambahnya.