Ligue 1 Prancis Musim Ini Akan Diberhentikan Segera

Kabar yang mungkin sedikit mengecewakan terdengar dari sepakbola Prancis. Dua kompetisi tertinggi di Negeri Fashion tersebut, Ligue 1 dan Ligue 2 terancam dihentikan secara permanen menyusul pandemi Virus Corona yang semakin mencemaskan.

Sebagai informasi, Prancis adalah salah satu negara yang merasakan dampak cukup parah dari Pandemi Virus Corona ini. Wabah tersebut setidaknya sudah memakan korban jiwa lebih dari 23 Ribu orang, dengan total lebih dari 165 ribu kasus positif ditemukan sejauh ini.

Tentu saja, kondisi ini sudah masuk ke fase krisis, karenanya pemerintah Prancis terus membuka kemungkinan untuk menerapkan aturan ketat agar penyebaran Virus bisa diminimalisir. Termasuk dengan menghentikan kompetisi sepakbola, Ligue 1 dan Ligue 2.

Kabar inipun juga telah dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Prancis, Edouard Phillipe secara langsung.

“Pertandingan Olahraga apapun tidak bisa digelar hingga bulan September. Musim sepakboal profesional 2019/20 tidak bisa dilanjutkan,” ujar Philippe yang dikutip RMC Sport.

Meski demikian, sampai kabar ini diturunkan pihak Ligue 1 atau FFF masih belum memberikan pernyataan resmi terkait kelangsungan kompetisi sepakbola di Prancis.

Padahal, sebelum ini ada kabar yang menyebut bahwa pihak otoritas Ligue 1 berencana menggulirkan liga lagi dalam waktu dekat. Mereka berencana untuk menggelar lagi kompetisi ini pada tanggal 17 Juni 2020 mendatang.

Namun berkat pernyataan Philippe itu, rencana ini dipastikan tidak bisa berlanjut dan saat ini mereka harus mengambil Respon resmi atas keputusan Perdana Menteri Prancis tersebut.

Laporan yang sama mengklaim bahwa pihak Federasi sepakbola Prancis akan memanggil semua perwakilan klub Ligue 1 dan Ligue 2 untuk membicarakan hal ini. Pertemuan ini akan diadakan pada awal Mei secara virtual.

Tentu saja, selain rencana tersebut, akan dibicarakan juga tentang siapa tim yang berhak juara, lolos ke kompetisi Eropa dan terdegradasi maupun Promosi.

Paris Saint-germain saat ini masih berada di puncak klasemen sementara dengan keunggulan 12 poin atas Marseille. Namun ada kemungkinan Ligue 1 musim 2019/20 dinyatakan tanpa juara, sebagaimana keputusan tersebut juga diambil pihak Eredivisie Belanda.

Soal Spekulasi Masa Depannya, De Ligt Angkat Bicara

Bek Timnas Belanda, Matthijs de Ligt akhirnya buka suara perihal spekulasi masa depannya di Juventus yang belakangan jadi perbincangan media-media Inggris.

Sebagai informasi, pemain berusia 20 tahun tersebut dibeli Juventus pada bursa transfer musim panas kemarin. Si Nyonya Tua harus membayar 75 juta euro untuk bisa mendapatkan servis De Ligt dari klub Liga Belanda, Ajax Amsterdam.

Kocek tinggi dirogoh sang juara bertahan Serie A italia usai melihat penampilan apik sang bek bersama Ajax musim kemarin. Seperti diketahui, De Ligt mampu memberi gelar Eredivisie dan lolos ke semifinal Liga Champions Eropa untuk Ajax.

Di panggung Internasional, De Ligt juga jadi andalan utama Tim Nasional Belanda. Dia menjadi duet Virgil van Dijk di bek tengah dan ikut berkontribusi mengantarkan timnas Belanda ke final UEFA Nations League.

Sayangnya, belum genap semusim membela Juventus, muncul rumor yang mengklaim bahwa sang pemain tak bahagia bersama Klub Serie A tersebut. Bahkan, dia disebut telah mengajukan permintaan transfer menuju Manchester United.

Akan tetapi, sang pemain lantas membantah kabar tersebut dalam kesempatan Podcast baru-baru ini. Dia mengaku bahagia di Juventus, dan merasa bahwa Bianconneri adalah pilihan terbaik.

“Saya punya waktu yang lama untuk memilih di antara klub-klub yang menginginkan saya, Juventus adalah pilihan terbaik,”

“Di Juventus, mereka mengatakan kepada saya bahwa saya dibeli karena saya tahu cara mengelola tekanan, mereka mempercayai saya untuk semua yang saya lakukan di Ajax. Saya senang tinggal di Turin,” Kata Matthijs de Ligt dikutip dari Sportsmole.

Sebenarnya, sejak awal De Ligt memang tak diproyeksikan untuk langsung bertandem dengan Bonucci di jantung pertahanan Juventus. Kondisi Chiellini yang sedang cedera membuatnya jadi pilihan utama sejak awal musim ini.

Sayang, performanya yang kurang bagus membuat manajer Maurizio Sarri lantas memilih Merih Demiral. Hanya saja, bintang muda Italia tersebut lantas mengalami cedera, dan De Ligt kembali jadi andalan utama.

Tapi sekarang, Chiellini yang cedera sudah kembali pulih, bek senior itupun jadi andalan di jantung pertahanan Bianconneri.

Legenda MU ini Tak Setuju Liverpool Juara Premier League

 

Liverpool bisa keluar sebagai juara Premier League musim ini jika kompetisi pada akhirnya benar-benar dihentikan. Namun, banyak pihak yang tak setuju termasuk legenda Manchester United, Peter Schmeichel.

Seperti diketahui, sebelum pandemi Virus Corona membuat Premier League terhenti sementara waktu, Liverpool memang sedang berada di puncak klasemen sementara. Skuat besutan Jurgen Klopp tersebut sedang unggul 25 poin atas penghuni posisi kedua, Manchester City.

Artinya, dengan fakta bahwa hanya ada 9 pertandingan tersisa, Liverpool membutuhkan 6 poin saja atau dua kemenangan untuk mengunci gelar juara musim ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, seharusnya Liverpool berpeluang untuk juara pada akhir bulan Maret.

Akan tetapi, Pandemi Corona membuat rencana tersebut buyar. Premier League ditangguhkan, awalnya sampai 30 April mendatang, namun putusan terbaru membuat Liga tertunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dengan fakta bahwa pandemi ini belum juga mereda, maka kelanjutan kompetisi pun menjadi semakin tak jelas. Situasi tersebut memunculkan gagasan agar Premier League sebaiknya dihentikan saja sementara waktu.

Jika langkah itu diambil, maka Liverpool akan dijadikan sebagai juara musim ini. Banyak orang yang sepakat jika mengingat jarak antara Liverpool dan Manchester City, tetapi tidak sedikit yang menolaknya.

Termasuk salah satunya legenda Manchester United, Peter Schmeichel. Menurutnya, unggul 25 poin tak berarti apapun jika tidak bisa menyelesaikannya hingga musim berakhir.

“Unggul 25 poin? Jadi ini sungguh menyedihkan buat mereka, tapi anda harus menyelesaikannya. Anda harus memenangkannya, agar anda bisa mengatakan bahwa andalah juaranya,” ujar Schmeichel dalam sesi tayangan langsung di media sosial Instagram.

Lebih lanjut, sang kiper legendaris juga percaya bahwa Liverpool sendiri tidak akan menerima jika diberikan gelar juara begitu saja tanpa harus melewati laga-laga yang menantang.

“Jika anda menjadi Liverpool, akankah anda menerima jika diberi seperti itu? Di Belgia, mereka memberikan trofi ke Club Brugge. Apakah begitu caranya kami bisa memenangkan kejuaraan?” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Liga Super Belgia memang telah dihentikan, dan gelar juara diberikan kepada pemuncak klasemen sementara, Club Brugge.

Tak Semua Pemain Juve Sepakat Gajinya Dipangkas

Baru-baru ini, muncul kabar bahwa Juventus telah menerapkan kebijakan pemotongan gaji semua pemain mereka menyusul pandemi Virus Corona. Meski kebijakan tersebut pada akhirnya diterima, namun tak semua pemain lantas mencapai kata sepakat.

Pandemi Virus Corona memang sedang mewabah hebat di Italia. Setidaknya sampai berita ini diturunkan ada lebih dari 90 Ribu kasus positif COVID-19 ditemukan di Negeri Spaghetti. Alhasil, Pemerintah menghentikan semua aktivitas luar ruangan, termasuk sepakbola.

Wabah ini juga membuat Juventus selaku juara bertahan kompetisi, menghentikan segala aktivitas klub. Mereka mewajibkan para pemain untuk melakukan karantina mandiri.

Seiring dengan keputusan tersebut, artinya kompetisi tak berjalan, pemasukanpun mandeg. Menghindari kebangkrutan, akhirnya Juventus melakukan kebijakan yang sama seperti klub-klub lain, yakni memotong gaji pemain.

“Kesepahaman tersebut mewujudkan pengurangan kompensasi mereka untuk bulan Maret, April, Mei, dan Juni 2020. Beberapa pekan ke depan, kesepakatan pribadi dengan para pemain dan pelatih akan diselesaikan, seperti yang diminta peraturan saat ini.”

“Jika sisa pertandingan musim ini dilanjutkan, klub bakal kembali bernegosiasi dengan para pemain dan pelatih perihal peningkatan bersyarat kompensasi mereka musim ini.” Demikian pernyataan resmi Juventus.

Para pemain Bianconneri disebut-sebut telah menyetujui kebijakan tersebut. Namun, pada awalnya tidak semua mencapai kata sepakat, sebagaimana diungkapkan oleh Paulo Dybala.

“Chiellini berbicara kepda presiden, lalu kepada pemain. Kami berbicara soal itu, ada beberapa opini yang berbeda, ada pemain yang kekurangan satu atau dua pertandingan untuk mencapai suatu klausul, tapi inilah hal terbaik yang bsa dilakukan,” ujarnya ke AFA.

Meski demikian, akhirnya semua pemain sepakat dengan pemotongan gaji ini. Sikap juventus lantas mendapat pujian dari berbagai pihak. Akhirnya banyak yang mengikuti jejak Bianconneri seperti Barcelona misalnya.

Kabar inipun dikonfirmasi langsung oleh kapten sekaligus pentolan utama Barcelona, Lionel Messi. Dikatakan bahwa para pemain sepakat untuk pemangkasan gaji sampai 70 Persen.

Bahkan, para pemain Barcelona akan mengumpulkan pundi-pundi uang demi membayar gaji karyawan klub selama masa pandemi ini berlangsung.

Serie A Italia sendiri sedang ditangguhkan, rencananya kompetisi baru bergulir lagi pada akhir Mei 2020 mendatang. Itupun jika situasinya memang sudah membaik.