Borussia Dortmund Pasrah Kehilangan Jadon Sancho

Manchester United mendapatkan kabar gembira terkait dengan salah satu pemain incaran mereka pada bursa transfer mendatang, Jadon Sancho. Menurut informasi yang terdengar, Borussia Dortmund sudah ikhlas jika harus kehilangan sang winger.

Bintang Muda Timnas Inggris itu memainkan peran yang besar di skuat Borussia Dortmund dalam dua musim terakhir. Ia menjadi sosok yang mematikan saat bermain di sisi sayap Die Borussen, tak terkecuali di musim 2019/20 ini.

Jadi wajar saja jika dalam semusim terakhir ini, Jadon Sancho terus dikaitkan dengan sejumlah raksasa Eropa. Klub Premier League, Manchester United disebut sebagai tim yang paling terdepan untuk mendapatkan servis pemain berusia 24 tahun tersebut.

Sebenarnya, pihak Dortmund semula enggan kehilangan Winger Timnas Inggris, akan tetapi Evening Standard mengklaim bahwa pihak Dortmund sudah berubah pikiran dan siap menjual Sancho. Menurut mereka, pihak Dortmund sudah menyerah untuk mencoba mempertahankan sang winger.

Mereka menilai sang winger belakangan mulai kehilangan fokus. Terutama setelah ia gencar diberitakan akan kembali ke Inggris musim depan. Karena alasan tersebut, Die Borussen menganggap bahwa sudah tidak ada gunannya untuk mempertahankan Jadon Sancho pada musim panas mendatang.

Hanya saja, masih dari laporan yang sama, hal tersebut bukan berarti juga bahwa Borussia Dortmund akan menurunkan nilai jual mereka untuk transfer Sancho. Mereka menilai Sancho adalah aset mereka yang berharga, sehingga tetap berencana melepasnya dengan mahar yang tinggi.

Dari beberapa kabar yang terdengar, pihak Borussia Dortmund hanya bersedia melepas Jadon Sancho lewat banderol tak kurang dari 116 Juta Poundsterling. Angka tersebut terbilang sangat tinggi bagi Manchester United.

Pasalnya, Kondisi finansial klub diyakini sedang goyah pasca pandemi Covid-19 menghantam. Begitu juga dengan klub-klub Premier League lainnya seperti Liverpool yang kabarnya ikut turun dalam perburuan Jadon Sancho.

Adapun, Jadon Sancho sendiri baru-baru ini mendapatkan sanksi dari DFL. Ia dijatuhi hukuman karena melanggar aturan lockdown, tidak menjaga jarak dengan orang di sekitar saat mencukur rambutnya. Namun, sanksi yang diberikan hanya berupa denda dan teguran dari pihak Borussia Dortmund.

Erling Haaland Cedera, Borussia Dortmund Harap Cemas

Sudah jatuh lagi tertimpa tangga, kiasan yang tepat untuk menggambarkan situasi Borussia Dortmund saat ini setelah melalui pekan ke-28 Bundesliga Jerman.

Sebagaimana diketahui, Dortmund memainkan pekan ke-28 Bundesliga Jerman Selasa dinihari WIB kemarin (26/05) melawan sang rival abadi, Bayern Munchen.

Bermain di Signal Iduna Park, harusnya tim arahan Lucien Favre lebih diunggulkan menang meski tanpa kehadiran penonton, namun kenyataannya mereka justru takluk dengan skor akhir 0-1. Adalah Joshua Kimmich yang mencetak gol semata wayang tim tamu dalam laga tersebut.

Kekalahan ini jelas mengecewakan, terlebih melihat fakta bahwa salah seorang pemain andalan mereka, Erling Braut Haaland mengalami cedera dalam laga bertajuk Der Klasiker tersebut.

Sang pemain harus ditarik keluar saat memasuki menit ke-27, lantaran cedera membuatnya tak bisa melanjutkan pertandingan.

Ia terlihat bergerak dengan canggung setelah melakukan peregangan setelah menerima umpan silang dari bintang Dortmund lainnya, Jadon Sancho.

Mengenai cedera pemain andalannya tersebut, pelatih Lucien Favre tidak bisa berbicara banyak.

“Saya tidak berpikir dia akan lama keluar. Dia mengalami cedera lutut. Kami saat ini tidak tahu persis apa itu,” kata pelatih Borussia Dortmund, Lucien Favre.

Yang jelas, cederanya Haaland menjadi kabar buruk bagi Die Borussen. Pasalnya, sejak didatangkan dari RB Salzburg pada bursa transfer musim dingin Januari 2020 kemarin, yang bersangkutan tampil konsisten.

Sejauh ini Haaland telah mencetak 10 gol untuk Dortmund dalam delapan pertandingan di ajang Bundesliga Jerman.

Selain itu, kekalahan dari Bayern Munchen juga mematahkan rekor positif Borussia Dortmund, yang telah mengemas enam kemenangan beruntun sebelumnya.

Pertandingan yang digelar tanpa penonton ini, seperti mengurangi semangat tim tuan rumah bermain cemerlang di Signal Iduna Park. Meski situasi ini dibantah Lucien Favre.

Dengan kekalahan tersebut, Dortmund kini tertinggal lebih jauh lagi dari puncak klasemen sementara yang diduduki Bayern Munchen. Sang rival kini unggul 7 poin, dan sisa musim ini tinggal enam pertandingan lagi.

Berikutnya, pasukan Lucien Favre akan berhadapan dengan Hertha BSC dalam lanjutan Bundesliga Jerman pekan depan.

Kontraknya dengan Legia Gdansk Akan Segera Berakhir, Ini Kata Egy

Bintang Timnas Indonesia U-22, Egy Maulana Vikri saat ini sedang berada di tahun terakhir kontraknya bersama dengan klub Polandia, Lechia Gdansk. Lantas, apa rencana sosok berusia 21 tahun tersebut kedepannya?

Sebagai informasi, Egy memang menjadi salah satu kebanggaan Indonesia. Dia direkrut oleh klub Polandia, Lechia Gdansk pada tahun 2017 lalu. Selama dua tahun terakhir, Egy tampil cemerlang bersama Lechia Gdansk.

Akan tetapi, waktu terus berjalan dan sekarang kontraknya bersama klub Polandia menyisakan satu tahun lagi. Egy lantas mulai jadi target sejumlah klub Indonesia, namun sang bintang muda itu masih belum tertarik berkarir di Tanah Air.

Dia berharap tetap bisa berkarir di Eropa.

“Saya ingin tetap main di Eropa,” katanya ketika telewicara dengan Menpora Zainudin Amali melalui Instagram.

Bukan tanpa alasan, Egy masih ingin terus mengasah kemampuannya di atas lapangan, menimba ilmu di Eropa dan targetnya menembus skuat utama tim yang dibelanya.

“Ingin merasakan main di dalamnya, terus ingin meningkatkan ilmu, ingin masuk ke skuat inti,” imbuh pemain yang dijuluki Lionel Messi dari Indonesia itu.

Di Lechia Gdansk sendiri, Egy memang sulit menembus skuat utama, musim ini dia baru mencatat 3 penampilan saja. Tapi sang pemain menegaskan bahwa persaingan di Eropa memang tidak mudah, bahkan untuk masuk ke skuat cadangan saja sangat sulit.

Meski demikian, hal tersebut tak lantas mematahkan semangat Egy untuk tetap melanjutkan karirnya di Benua Biru.

“Untuk masuk ke-18 pemain yang akan main itu benar-benar sangat sulit, harus ekstra kerja keras. Yang pasti saya ingin bermain di Eropa, saya masih punya rasa penasaran,” ucap Egy Maulana Vikri.

Lantas, kemana tujuan Egy setelah meninggalkan Polandia? Sosok yang sempat diketahui dekat dengan Adiba ini mengaku ingin bergabung dengan klub Portugal atau Spanyol.

“Beberapa tahun ke depan kontrak saya habis. Kalau bisa saya mencoba di Liga Portugal dan Spanyol,” ujar Egy Maulana Vikri.

Liga Polandia sendiri memang sempat tertunda karena pandemi Corona, dan rencananya baru digelar lagi pada tanggal 29 Mei mendatang.

Arsenal Harus Jual Ozil, Lalu Beli Jack Grealish

Mantan pemain Arsenal, Kevin Campbell menyarankan bekas klubnya untuk membenahi skuat yang ada saat ini. Salah satu caranya dengan menjual playmaker asal Jerman, Mesut Ozil, lalu membeli gelandang muda potensial, Jack Grealish.

Sebagai informasi, Jack Grealish saat ini memang sedang menjadi incaran banyak klub besar Premier League. Tak lain hal tersebut dikarenakan performa gemilang sosok berusia 24 tahun tersebut bersama dengan Aston Villa.

Dari berita yang beredar di media-media Inggris, Manchester United disebut sebagai peminat utama sang pemain. Namun mereka tak kunjung merekrut gelandang asal Inggris itu, padahal ada kesempatan besar untuk melakukannya di musim dingin Januari kemarin.

Jelas fakta tersebut sama saja dengan membuka jalan bagi klub lain untuk mendapatkan servis sang gelandang. Terlebih lagi, peminat Jack Grealish ada banyak, dan Arsenal disebutkan sebagai salah satu diantaranya.

Sedangkan di satu sisi, Kevin Campbell menilai bahwa masa-masa Emas Mesut Ozil sudah berakhir. Hal ini terlihat dari performanya yang tampak menurun dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan di sisi lain, usia mantan bintang Real Madrid itu juga sudah tidak muda lagi.

Karenanya, dia menyarankan agar Arsenal segera mengambil keputusan. Melepas pemain yang sudah mendekati masa akhir karir, lalu mendatangkan pemain lain yang masih muda dan punya masa depan cerah seperti Jack Grealish.

Selain itu, klub London Utara juga perlu mempertimbangkan nama James Maddison, bintang muda Inggris yang cemerlang bersama Leicester City.

“Arsenal butuh seseorang di tengah lapangan yang tidak hanya mampu menciptakan sesuatu, tapi juga bisa merusak permainan, memiliki kecepatan, kami merindukan itu. Ada perbincangan bahwa seharusnya kami mengejar Jack Grealish atau James Maddison.

“Tipe pemain seperti mereka akan mengembangkan Arsenal. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ozil, tapi Ozil sedang berada di sisi yang salah dalam karirnya dengan kontrak tersisa satu tahun setelah ini,” ujar Campbell.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah, mampukah Arsenal membuat para pemain tersebut tertarik untuk bergabung ke skuat Mikel Arteta? Pasalnya, klub sedang paceklik gelar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga sulit menembus ajang Liga Champions Eropa.

Ligue 1 Prancis Musim Ini Akan Diberhentikan Segera

Kabar yang mungkin sedikit mengecewakan terdengar dari sepakbola Prancis. Dua kompetisi tertinggi di Negeri Fashion tersebut, Ligue 1 dan Ligue 2 terancam dihentikan secara permanen menyusul pandemi Virus Corona yang semakin mencemaskan.

Sebagai informasi, Prancis adalah salah satu negara yang merasakan dampak cukup parah dari Pandemi Virus Corona ini. Wabah tersebut setidaknya sudah memakan korban jiwa lebih dari 23 Ribu orang, dengan total lebih dari 165 ribu kasus positif ditemukan sejauh ini.

Tentu saja, kondisi ini sudah masuk ke fase krisis, karenanya pemerintah Prancis terus membuka kemungkinan untuk menerapkan aturan ketat agar penyebaran Virus bisa diminimalisir. Termasuk dengan menghentikan kompetisi sepakbola, Ligue 1 dan Ligue 2.

Kabar inipun juga telah dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Prancis, Edouard Phillipe secara langsung.

“Pertandingan Olahraga apapun tidak bisa digelar hingga bulan September. Musim sepakboal profesional 2019/20 tidak bisa dilanjutkan,” ujar Philippe yang dikutip RMC Sport.

Meski demikian, sampai kabar ini diturunkan pihak Ligue 1 atau FFF masih belum memberikan pernyataan resmi terkait kelangsungan kompetisi sepakbola di Prancis.

Padahal, sebelum ini ada kabar yang menyebut bahwa pihak otoritas Ligue 1 berencana menggulirkan liga lagi dalam waktu dekat. Mereka berencana untuk menggelar lagi kompetisi ini pada tanggal 17 Juni 2020 mendatang.

Namun berkat pernyataan Philippe itu, rencana ini dipastikan tidak bisa berlanjut dan saat ini mereka harus mengambil Respon resmi atas keputusan Perdana Menteri Prancis tersebut.

Laporan yang sama mengklaim bahwa pihak Federasi sepakbola Prancis akan memanggil semua perwakilan klub Ligue 1 dan Ligue 2 untuk membicarakan hal ini. Pertemuan ini akan diadakan pada awal Mei secara virtual.

Tentu saja, selain rencana tersebut, akan dibicarakan juga tentang siapa tim yang berhak juara, lolos ke kompetisi Eropa dan terdegradasi maupun Promosi.

Paris Saint-germain saat ini masih berada di puncak klasemen sementara dengan keunggulan 12 poin atas Marseille. Namun ada kemungkinan Ligue 1 musim 2019/20 dinyatakan tanpa juara, sebagaimana keputusan tersebut juga diambil pihak Eredivisie Belanda.

Soal Spekulasi Masa Depannya, De Ligt Angkat Bicara

Bek Timnas Belanda, Matthijs de Ligt akhirnya buka suara perihal spekulasi masa depannya di Juventus yang belakangan jadi perbincangan media-media Inggris.

Sebagai informasi, pemain berusia 20 tahun tersebut dibeli Juventus pada bursa transfer musim panas kemarin. Si Nyonya Tua harus membayar 75 juta euro untuk bisa mendapatkan servis De Ligt dari klub Liga Belanda, Ajax Amsterdam.

Kocek tinggi dirogoh sang juara bertahan Serie A italia usai melihat penampilan apik sang bek bersama Ajax musim kemarin. Seperti diketahui, De Ligt mampu memberi gelar Eredivisie dan lolos ke semifinal Liga Champions Eropa untuk Ajax.

Di panggung Internasional, De Ligt juga jadi andalan utama Tim Nasional Belanda. Dia menjadi duet Virgil van Dijk di bek tengah dan ikut berkontribusi mengantarkan timnas Belanda ke final UEFA Nations League.

Sayangnya, belum genap semusim membela Juventus, muncul rumor yang mengklaim bahwa sang pemain tak bahagia bersama Klub Serie A tersebut. Bahkan, dia disebut telah mengajukan permintaan transfer menuju Manchester United.

Akan tetapi, sang pemain lantas membantah kabar tersebut dalam kesempatan Podcast baru-baru ini. Dia mengaku bahagia di Juventus, dan merasa bahwa Bianconneri adalah pilihan terbaik.

“Saya punya waktu yang lama untuk memilih di antara klub-klub yang menginginkan saya, Juventus adalah pilihan terbaik,”

“Di Juventus, mereka mengatakan kepada saya bahwa saya dibeli karena saya tahu cara mengelola tekanan, mereka mempercayai saya untuk semua yang saya lakukan di Ajax. Saya senang tinggal di Turin,” Kata Matthijs de Ligt dikutip dari Sportsmole.

Sebenarnya, sejak awal De Ligt memang tak diproyeksikan untuk langsung bertandem dengan Bonucci di jantung pertahanan Juventus. Kondisi Chiellini yang sedang cedera membuatnya jadi pilihan utama sejak awal musim ini.

Sayang, performanya yang kurang bagus membuat manajer Maurizio Sarri lantas memilih Merih Demiral. Hanya saja, bintang muda Italia tersebut lantas mengalami cedera, dan De Ligt kembali jadi andalan utama.

Tapi sekarang, Chiellini yang cedera sudah kembali pulih, bek senior itupun jadi andalan di jantung pertahanan Bianconneri.

Legenda MU ini Tak Setuju Liverpool Juara Premier League

 

Liverpool bisa keluar sebagai juara Premier League musim ini jika kompetisi pada akhirnya benar-benar dihentikan. Namun, banyak pihak yang tak setuju termasuk legenda Manchester United, Peter Schmeichel.

Seperti diketahui, sebelum pandemi Virus Corona membuat Premier League terhenti sementara waktu, Liverpool memang sedang berada di puncak klasemen sementara. Skuat besutan Jurgen Klopp tersebut sedang unggul 25 poin atas penghuni posisi kedua, Manchester City.

Artinya, dengan fakta bahwa hanya ada 9 pertandingan tersisa, Liverpool membutuhkan 6 poin saja atau dua kemenangan untuk mengunci gelar juara musim ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, seharusnya Liverpool berpeluang untuk juara pada akhir bulan Maret.

Akan tetapi, Pandemi Corona membuat rencana tersebut buyar. Premier League ditangguhkan, awalnya sampai 30 April mendatang, namun putusan terbaru membuat Liga tertunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dengan fakta bahwa pandemi ini belum juga mereda, maka kelanjutan kompetisi pun menjadi semakin tak jelas. Situasi tersebut memunculkan gagasan agar Premier League sebaiknya dihentikan saja sementara waktu.

Jika langkah itu diambil, maka Liverpool akan dijadikan sebagai juara musim ini. Banyak orang yang sepakat jika mengingat jarak antara Liverpool dan Manchester City, tetapi tidak sedikit yang menolaknya.

Termasuk salah satunya legenda Manchester United, Peter Schmeichel. Menurutnya, unggul 25 poin tak berarti apapun jika tidak bisa menyelesaikannya hingga musim berakhir.

“Unggul 25 poin? Jadi ini sungguh menyedihkan buat mereka, tapi anda harus menyelesaikannya. Anda harus memenangkannya, agar anda bisa mengatakan bahwa andalah juaranya,” ujar Schmeichel dalam sesi tayangan langsung di media sosial Instagram.

Lebih lanjut, sang kiper legendaris juga percaya bahwa Liverpool sendiri tidak akan menerima jika diberikan gelar juara begitu saja tanpa harus melewati laga-laga yang menantang.

“Jika anda menjadi Liverpool, akankah anda menerima jika diberi seperti itu? Di Belgia, mereka memberikan trofi ke Club Brugge. Apakah begitu caranya kami bisa memenangkan kejuaraan?” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Liga Super Belgia memang telah dihentikan, dan gelar juara diberikan kepada pemuncak klasemen sementara, Club Brugge.

Tak Semua Pemain Juve Sepakat Gajinya Dipangkas

Baru-baru ini, muncul kabar bahwa Juventus telah menerapkan kebijakan pemotongan gaji semua pemain mereka menyusul pandemi Virus Corona. Meski kebijakan tersebut pada akhirnya diterima, namun tak semua pemain lantas mencapai kata sepakat.

Pandemi Virus Corona memang sedang mewabah hebat di Italia. Setidaknya sampai berita ini diturunkan ada lebih dari 90 Ribu kasus positif COVID-19 ditemukan di Negeri Spaghetti. Alhasil, Pemerintah menghentikan semua aktivitas luar ruangan, termasuk sepakbola.

Wabah ini juga membuat Juventus selaku juara bertahan kompetisi, menghentikan segala aktivitas klub. Mereka mewajibkan para pemain untuk melakukan karantina mandiri.

Seiring dengan keputusan tersebut, artinya kompetisi tak berjalan, pemasukanpun mandeg. Menghindari kebangkrutan, akhirnya Juventus melakukan kebijakan yang sama seperti klub-klub lain, yakni memotong gaji pemain.

“Kesepahaman tersebut mewujudkan pengurangan kompensasi mereka untuk bulan Maret, April, Mei, dan Juni 2020. Beberapa pekan ke depan, kesepakatan pribadi dengan para pemain dan pelatih akan diselesaikan, seperti yang diminta peraturan saat ini.”

“Jika sisa pertandingan musim ini dilanjutkan, klub bakal kembali bernegosiasi dengan para pemain dan pelatih perihal peningkatan bersyarat kompensasi mereka musim ini.” Demikian pernyataan resmi Juventus.

Para pemain Bianconneri disebut-sebut telah menyetujui kebijakan tersebut. Namun, pada awalnya tidak semua mencapai kata sepakat, sebagaimana diungkapkan oleh Paulo Dybala.

“Chiellini berbicara kepda presiden, lalu kepada pemain. Kami berbicara soal itu, ada beberapa opini yang berbeda, ada pemain yang kekurangan satu atau dua pertandingan untuk mencapai suatu klausul, tapi inilah hal terbaik yang bsa dilakukan,” ujarnya ke AFA.

Meski demikian, akhirnya semua pemain sepakat dengan pemotongan gaji ini. Sikap juventus lantas mendapat pujian dari berbagai pihak. Akhirnya banyak yang mengikuti jejak Bianconneri seperti Barcelona misalnya.

Kabar inipun dikonfirmasi langsung oleh kapten sekaligus pentolan utama Barcelona, Lionel Messi. Dikatakan bahwa para pemain sepakat untuk pemangkasan gaji sampai 70 Persen.

Bahkan, para pemain Barcelona akan mengumpulkan pundi-pundi uang demi membayar gaji karyawan klub selama masa pandemi ini berlangsung.

Serie A Italia sendiri sedang ditangguhkan, rencananya kompetisi baru bergulir lagi pada akhir Mei 2020 mendatang. Itupun jika situasinya memang sudah membaik.

Liga Primer Bisa Tertunda Lebih Lama, Begini Alasannya

Kendati ada gagasan untuk menggulirkan kompetisi tanpa penonton, Legenda MU Garry Neville tampak pesimis bahwa Premier League bisa berlangsung lagi akhir April mendatang.

Pandemi Corona memang memaksa pemerintah di Negara-Negara Eropa untuk melakukan tindakan pencegahan. Di Inggris misalnya, pertandingan Sepakbola Premier League yang memicu kerumunan akhirnya ditunda sampai tanggal 30 April 2020 mendatang.

Bukan tanpa alasan, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menginstruksikan semua negara untuk menerapkan kebijakan Social Distancing. Hal tersebut diterapkan demi menekan angka penyebaran Virus corona yang semakin mengkhawatirkan.

Otoritas Premier league sendiri telah menunda jadwal pertandingan sampai 30 April 2020 mendatang. Bisa saja lebih lama tergantung pada kondisi yang ada. Namun, muncul gagasan untuk memaksa kompetisi bergulir tanpa kehadiran penonton.

Namun, Garry Neville tampak meragukan hal tersebut. Pasalnya, sebuah pertandingan sepakbola tak hanya memerlukan kehadiran para pemain kedua tim, tapi juga ambulan, tenaga medis dan lainnya. Sedangkan mereka para tenaga Medis kini sedang sibuk menangani pasien Covid-19.

“Saya kira, saat ini tidak ideal membayangkan bagaimana sepak bola dilanjutkan lagi pada tiga-empat bulan ke depan, mengingat fakta bahwa kita baru saja menerima keputusan karantina wilayah,”

“Sepak bola tidak bisa kembali sebab sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan stadion, seperti polisi dan pelayanan ambulans, tidak akan tersedia sampai beberapa bulan ke depan. Mereka jelas bakal sibuk di setiap rumah sakit dan menjaga mereka yang terbaring lemah, yang paling membutuhkan,” ujar Neville kepada CNN.

Legenda Manchester United itu sadar bahwa ada sangat banyak pihak yang merugi jika sepakbola tak dilanjutkan kembali. Namun, yang harus dipikirkan dan diutamakan sekarang ini adalah kesehatan serta keselamatan semua orang.

“Kesehatan tetap yang utama, baik itu kesehatan fans, para pemain, staf, orang-orang yang memasuki stadion. Hal yang paling penting adalah kita baru akan menghadapi krisis paling besar untuk negara ini [UK],” tandasnya.

Premier League sendiri terbilang ‘terlambat’ melakukan tindakan preventif ini. Ketika Mikel Arteta (Pelatih Arsenal) dan Callum Hudson Odoi (Pemain Chelsea) telah positif terjangkit Corona, barulah mereka menunda kompetisi.

Pablo Mari Ingin Bertahan Lama di Arsenal

Meski baru memasuki bulan ketiga sejak bergabung dengan Arsenal, bek Brazil, Pablo Mari mengaku sudah betah di klub London tersebut.

Arsenal memang mendatangkan bek anyar pada kesempatan bursa transfer musim dingin Januari kemarin. Pemain tersebut tidak lain adalah Pablo Mari, yang mereka beli dari klub Brazil, Flamengo.

Pemain berusia 23 tahun tersebut dipinjam selama setengah musim, dengan opsi pembelian permanen pada musim panas mendatang.

Artinya, Pablo Mari merupakan rekrutan pertama Arsenal dibawah arahan Mikel Arteta. Tak lama berselang, datang Cedric Soares yang dibeli dari Southampton pada deadline day bursa transfer tengah musim.

Sejauh ini, faktanya Pablo Mari belum begitu banyak mendapat kesempatan bermain di Arsenal. Dia baru bermain di dua pertandingan saja. Namun demikian, sang pemain mengaku tetap bahagia bersama klub Premier League tersebut.

Bahkan, Pablo Mari ingin bertahan lama di klub London utara, karena merasakan atmosfer yang positif sejauh ini.

“Saya ingin bermain di salah satu liga terbaik di dunia dan sekarang saya di sini. Saya akan melakukan yang terbaik bagi tim, klub, meraih banyak kemenangan dan juga untuk fans agar mereka bisa menikmatinya bersama saya. Saya ingin bermain selama bertahun-tahun di sini bersama Arsenal. Saat ini saya merasa sangat bahagia,” ujar Mari seperti dikutip Goal International.

Lebih lanjut, sang defender berharap agar Arsenal bisa membelinya secara permanen pada bursa transfer musim panas mendatang.

“Ya, tentu saja. Saya sangat bahagia di sini,” jawab Mari ketika ditanya apakah ia ingin statusnya di Arsenal menjadi permanen.

Karena bertekad bisa bertahan lama di Arsenal, Pablo Mari lantas bertekad untuk melakukan yang terbaik di sisa musim ini.

“Saya akan mencoba dan melakukan yang terbaik hingga akhir musim. Saya juga berharap klub senang dengan saya dan kemudian kita akan mencari solusi yang baik untuk semuanya,” tukasnya.

Arsenal sendiri terancam kembali gagal bermain di ajang Liga Champions Eropa musim depan setelah tersingkir dari ajang Liga Europa. Di klasemen sementara Premier League, mereka juga duduk di posisi ke-9.